>

Jawaban

by - 9/27/2020 09:30:00 pm


Kira-kira lima jam yang lalu sebuah kontak nama dan nomor yang sangat aku kenal menghubungiku. Saat itu masih jam dua pagi. Ketika aku meraih ponsel yang tergeletak disampingku, dering berhenti. Ini pangggilan tak terjawab ke-23. Serius? Aku khawatir, tapi aku tak ingin menghubungi balik. Gengsiku lebih tinggi ternyata. Padahal aku mengunggu hingga ketiduran.

Ketika aku hendak mematikan ponselku dan melanjutkan tidur, ia kembali berbunyi. Jujur, aku sudah enggan mengangkatnya. Apa kubiarkan saja ya?

Aku putuskan untuk menjawab panggilan itu. 

Ada hening saat sebelum orang diseberang berkata.

"Halo, selamat pagi nona." suara yang sangat aku kenali. Yang mempunyai suara dengan nada lembut dan hangat menyapaku di dini hari ini.

Dan ada hening panjang, lama sekali setelah dia selesai --atau, maksudku, kukira selesai-- menjelaskan semuanya. Dia pun memanggil kebingungan.

"Halo? Are you there?"

"Eh, i.. iya aku disini." jawabku

Tentu saja aku grogi, dalam tingkatan bukan main. Aku akan bertemu langsung dengannya besok, setelah sekian lama dia menghilang. Semalam, dia berjanji akan menelpon setelah kami menentukan tempat pertemuan besok. Tapi aku malah tertidur.

Dan setelah sekian lama juga, aku mendengar suaranya lagi.

Oleh karena itu, kira-kira lima jam kemudian kami bertemu. Sejujurnya aku ngantuk berat karena tidak bisa kembali tidur. Alhasil aku menggunakan taksi untuk menuju tempat tujuan.

Sepuluh menit setelah aku duduk, dia datang. Dengan wajah seringai dan memelukku, dia menanyakan kabarku dan berkata aku sedikit lebih kurus dari empat tahun yang lalu. Memegangi kedua pundakku dan menatap mataku seakan mencari-cari sesuatu.

Aku tertegun

Kepalaku memikirkan empat tahun penantian. Dan disini, ditempat ini, kami bertemu kembali. Kau tahu, seberapa rindu dan kesalnya aku selama itu tanpa diberi kabar sedikitpun?

Aku menatapnya dengan seksama. Tatapan mata itu, masih sama. Tidak berubah. 

Dan sepertinya dia bertambah tinggi. Lengannya masih terlihat tetap terjaga dengan gym. Oh, tidak. Dia semakin sempurna.

Di hadapanku kini ada orang yang selama ini aku nanti.

"Apa kabar?" Dia bertanya

Aku menjawab gagu "B..baik"

"Apakah kamu kaget saat menerima telponku kemarin?"

"Lumayan." aku menjawab dengan wajah datar. Berusaha mati-matian menahan rasa ingin menangis sangking senangnya.

"Waktu aku menelpon semalam, kamu sedang menulis atau sedang tidur?"

"Tidur"

"Apa kau lelah menunggu? Ah, kau masih sama seperti dulu ternyata. Tidak suka menunggu." Jawabnya santai dan sedikit tertawa.

Aku diam

''Aku tahu kamu paling benci menunggu, tapi setiap kali kita janji bertemu pasti kamu selalu datang lebih awal dan kamu bersedia menungguku. Ayo kita mulai jogging pagi ini" lanjutnya --dengan nada mengejek sepertinya--.

Kami jogging bersama. Di sebuah taman kampus terkenal ibukota. Aku mulai bersuara memecah keheningan.

"Kapan kamu sampai?"

Dia tersenyum. "Kemarin."

''Oh." jawabku sekenanya.

''Dan kau adalah orang pertama yang aku temui setelah aku pulang sejak kemarin."

"Orang tuamu? Saudara?."

"Kau tahu, mereka sedang diluar kota karena aku pulang tidak memberi tahu. Ini Kejutan sebenarnya. Tapi malah aku yang terkejut." Dia menjawab. Mimik mukanya berubah sedih. Dia berdecih "Aku kesepian, kau tahu? Dan kau selalu ada untukku. Terima kasih." tambahnya, menoleh kearahku dan tersenyum simpul.

Aku tidak menjawab.

Apakah aku hanya pelarian ketika dia merasa kesepian dan sedang tidak ada orang yang ingin dia ajak pergi? Apakah pertemuan ini salah satu dari itu? Seketika aku merasa bodoh sekali. Tapi tak kupungkiri, bahwa aku merindukan sosok pria disampingku ini. Dengan wajah seringainya saat pertama kali bertemu tadi, membuatku tersenyum tipis membayangkannya.

Kami duduk di kursi taman setelah jogging. Aku kelelahan. Sudah lama sekali aku tidak olahraga. Kursi taman ini terletak di bawah pohon yang rindang dan menghadap ke sebuah danau buatan yang amat cantik menurutku. Tempat ini selalu menjadi tempat favourite kami. Udara pagi yang masih segar, pepohonan tinggi, danau yang tenang, dan kicauan burung kecil membuatnya semakin damai. 

Menatapi pemandangan alam sekitar, membuat kami sibuk dengan fikiran masing-masing. Keheninganpun menyelimuti. 

Aku memejamkan mataku sejenak yang kini sudah duduk di rerumputan disamping kursi taman. Menggunakan kedua tanganku kebelakang untuk menumpu badanku. Aku tidak tidur, hanya menikmati suasana disini.

''Hei, kau tahu?" Dia memecah keheningan. Pria itu kini sedang menikmati hembusan angin yang perlahan membelai seluruh tubuhnya, dan sinar matahari yang hangat mulai terasa. Ia menatap langit dengan senyuman manis terpancar. Kedua tangannya kini menekuk lututnya. 

"Aku tidak pernah merasa sedamai ini, selain duduk disini dan bersama denganmu. Momen ini selalu aku rindukan ketika aku disana." gumamnya. Kedua tangannya kini bersandar diatas rumput, menopang tubuhnya.

Aku tidak tahu dia sedang menggombal atau bagaimana. Ekspresi wajahnya terlihat serius. Namun tetap tersenyum.

''Kenapa?" tanyaku mendilik kearahnya

''Aku tidak tahu, yang pasti aku sangat senang sekarang.'' jawabnya. Menoleh kearahku dan tersenyum. ''Kau selalu tahu bagaimana cara membuatku sedamai ini." tambahnya

Senyumnya menular. Akupun ikut tersenyum.

Keheningan melanda cukup lama. Menikmati udara sejuk dan matahari pagi yang menyapa.

Aku memecah keheningan.

"Dunia ini kadang terasa seperti penantian yang tak usai-usai. Perjalanan yang sunyi. Kadang menyenangkan, lebih sering menyakitkan. Ditinggalkan. Terpaksa meninggalkan. Patah hati. Dilupakan. Terpaksa melupakan. Kalah. Terpaksa menyerah." Aku menoleh kearah wajahnya. "Kau pasti mengerti maksudku." tambahku.

"Hahaha... sangat mengerti." dia tertawa lepas. Masih menatap awan.

Aku tersenyum. Aku yakin dia tahu pasti apa yang aku maksud.

"Kau masih ingat? sebelum aku pergi mengatakan sesuatu denganmu kan?" dia bertanya. "Sekarang apa jawabanmu?" tambahnya. 

Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Kira-kira empat tahun yang lalu saat aku mengantar kepergiannya di bandara, dia memberiku sebuah kalung, dengan liontin bulan. Sangat jelas ditelingaku bahwa dia menyatakan ingin menjadikanku teman hidupnya. Menghabiskan waktu bersama selamanya. Aku tak percaya, saat itu aku hanya tertawa menanggapinya sembari memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan. Sedikit mendorong pundaknya untuk bergegas masuk bandara karena aku tahu dia tidak punya banyak waktu. Dia selalu memiliki kebiasaan buruk, yaitu datang terlambat.

"Apa kau masih menyimpan kalung itu?" dia bertanya. Membuyarkan lamunanku.

Aku hanya melihatnya dengan wajah datar.

"Syal pemberianmu sangat berguna disana. Selalu aku pakai." tambahnya. Dia semakin dekat menatapku sambil memiringkan tubuhnya dan satu tangan menopang kepalanya.

''Ya. Selalu aku simpan. Terkadang aku memakainya jika aku ingin. Itu kalung yang cantik, sayang jika aku memakainya terus menerus. Nanti hilang. Jadi aku simpan dan memakainya sesekali." jawabku jujur. 

Dia tersenyum. "Ternyata kau takut kehilangaku ya."

Aku sedikit memukul pundaknya. Dia terkekeh.

"Jadi apa jawabanmu?" tanyanya.

Hening sebentar.

"Iya aku mau."

Dia mengubah posisi tubuhnya. Sekarang duduk berhadapan denganku. Memegang tanganku sambil menyeringai senang menampakkan deretan gigi putih bersih miliknya. "Ternyata ramalan cuaca benar. Hari ini adalah hari yang cerah." 

Lagi-lagi senyumnya menular. Aku ikut menyeringai.

Kedua mata kami beradu pandang. Cukup lama.

Aku semakin yakin. Tatapan ini tidak pernah berubah. Masih sama sejak pertama bertemu. Mungkin hingga selamanya.

"Jadi, kapan aku bisa menemui orangtuamu?"

===

You May Also Like

0 komentar