>

Momen

by - 11/22/2018 10:31:00 pm

[Source : Pinterest]

Apakah kamu masih ingat ? Hari itu dikala hujan turun sangat deras, kita berteduh di di sebuah kedai kopi sederhana pinggir jalan raya yang ramai. Padahal hujannya baru sebentar, tapi sudah berhasil membasahi semua sudut jalan. Dengan terburu-buru, kamu memarkirkan motor mu dan aku langsung saja masuk kedalam kedai kopi. Tanpa memperdulikan kamu, yang sudah basah kuyup sepertinya. Aku duduk dan menaruh tas ku yang berisi deadline laporan yang harus segera diselesaikan. Kamu menyusul dengan membawa dua cangkir espresso hangat dan duduk tepan di hadapanku. Kita, hari itu sedang berselisih paham, itulah kenapa aku tidak memperdulikanmu dan langsung masuk saja ke kedai kopi. Dengan keegoisanku dan kekanak-kanakan aku tetap keras kepala mempertahankan argumenku sendiri. Dan kamu, dengan sabar meladeni apapun yang aku lakukan. Kamu, yang hanya berbeda satu tahun denganku, kurasa kamu sudah sangat dewasa. Bisa menghadapi "bocah" sepertiku ini.

Sambil menunggu hujan reda, aku melanjutkan nulis laporan yang sudah "menjerit" daritadi. Kamu membantuku. Aku tidak tahu, hatimu terbuat dari apa. Kamu, seperti seorang superhero yang datang dan menyelamatkanku. Selalu ada kapanpun dan dimanapun aku mau. Itulah mengapa, kamu selalu bisa membuat aku luluh. Kamu selalu bisa membuat aku berubah menjadi lebih baik. Kamu "obat" yang manjur untukku. 

Akhirnya laporanku selesai, berkat bantuanmu. Dengan itu, kamu bisa membicarakan kesalahpahaman itu denganku. Perdebatanpun dimulai. Aku paling suka beradu argumen seperti ini. Karena setiap kata dan setiap ucapanku selalu kamu dengarkan. Kamu tidak pernah menyalahkan setiap argumen yang aku sampaikan. Aku tahu, kamu pasti pernah kesal denganku, tapi aku tidak berhasil melihatnya di raut wajahmu. Kamu sepintar itu. Aku takjub. Itulah kenapa aku tidak pernah bisa kesal lama-lama denganmu.

Hujan sudah reda, laporan sudah selesai, dan masalah kita pun selesai juga. Kamu berhasil membuatku tertawa lagi dengan lawakanmu yang super "garing". Akhirnya kita pulang dan kamu mengantarku sampai depan rumah, seperti biasa.

Dan untuk sekarang, aku rasanya ingin sekali bertanya padamu. Apakah kamu masih ingat momen ini ? Apakah kamu merindukan momen ini ? Apakah momen ini masih menjadi momen terbaikmu juga ? Sepertinya kamu sudah lupa ya. Tapi entahlah. Yang aku tahu, sekarang kamu sedang berusaha untuk menggapai cita-citamu. Sama sepertimu, aku juga belum bisa menemukan yang sama sepertimu atau mirip setidaknya. Dan disini, percis ditempat duduk waktu itu, aku sedang terjebak khayalan dalam lamunan ditengah hujan yang tak kunjung reda. 

You May Also Like

0 komentar